Cerbung : Garis Takdir Dinding Pesantren Part 1

5 1

Garis Takdir Dinding Pesantren Part 1

“Gue harus segera kabur, mumpung lingkungan pesantren lagi sepi.” Kayana melihat situasi saat ini yang mendukungnya untuk segera meninggalkan pesantren.
“Aahhh sial tinggi banget temboknya, mana Gue gak bisa manjat di tambah pakaian sialan ini.” gerutu Kayana memandangi tembok yang menjulang tinggi.
“Ayo Kayana berpikir” beberapa menit kemudian mata Kayana tertuju pada bangku yang sudah tidak terpakai lagi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Garis Takdir Dinding Pesantren Part 1
Garis Takdir Dinding Pesantren Part 1

“Memang semesta hari ini berpihak sama Gue.” tutur Kayana dengan senyuman secerah matahari pagi. Tanpa pikir panjang Kayana pun mengambil bangku yang dia lihat tadi.
“Ayo Kayana lo pasti bisa, lo pasti bisa, tapi Gue takut banget sama ketinggian. Tapi kalau hari ini gue gagal kabur, gak ada lagi kesempatan. Ayo Kayana, Lo pasti bisa” panik Kayana melihat ke bawah.

“Kayana jangan lihat ke bawah! jangan lihat ke bawah!” ucap Kayana menenangkan diri sendiri.
Setelah beberapa kali mencoba akhirnya Kayana sudah berada di atas tembok tersebut.
“Anjir tinggi banget, kalau Gue loncat apa gak patah tulang belulang Gue” ucap Kayana panik sambil memandang ke arah bawah.

Setelah beberapa menit berfikir, akhirnya Kayana memutuskan untuk loncat dari tembok tersebut.
“Akhh!” Pekik Kayana.
Kakinya tergores akibat lompat dari tembok tersebut. Tanpa memperdulikan kakinya, Kayana segera pergi meninggalkan kawasan pesantren dengan kaki yang sedikit pincang.
“Sial kaki Gue sakit banget. Gue istirahat aja dulu, toh sekarang gue sudah berada jauh dari kawasan pesantren, gak mungkin para Ustadzah cari Gue sampai sini.” ucap Kayana.

Setelah beberapa menit istirahat untuk mengembalikan tenaga yang sempat terkuras tadi. Akhirnya Kayana melanjutkan perjalananya menuju jalan raya.
“Gue kok gak sampai-sampai jalan raya, mana kaki Gue sakit banget.” rengek Kayana. Saat hendak menyebrang,
“Akhhhh!!!” Teriak Kayana saat mobil entah dari mana datang menabrak Kayana.
“Afwan Gus, Mang Tono nabrak orang. Gus tunggu sebentar Mang tono mau lihat orang yang sudah Mang Tono tabrak.” tutur Mang Tono segera turun dari mobil.

Baca juga  PACARKU MELAKUKAN HAL YANG PALING MENGERIKAN SELAMA LOCKDOWN | KISAH DIRIKU

“Afwan Neng, Mang Tono tidak sengaja, apa ada yang luka?” tanya Mang Tono khawatir.
“Kalau pakai mobil itu jangan ngebut-ngebut, kayak jalan punya sendiri aja!” teriaka Kayana
“Mana luka yang tadi aja belum reda sakitnya di tambah di tabrak, akhh Gue sial banget.” gerutu Kayana sambil melihat kakinya yang lukanya semakin lebar.
“Afwan Neng, Mang Tono tidak sengaja. Neng juga nyeberang tidak lihat kanan kiri. Iya sudah ayo Mang Tono anterin ke klinik untuk obati lukanya.” tawar Mang Tono.
“Ga usaha, mending Lo tunjukin jalan menuju ke jalan raya!” balas Kayana.
“Neng kalau ke jalan raya jalannya bukan ke sini. Kalau Neng mau ke jalan raya harus putar baik.” jelas Mang Tono yang membuat Kayana syok.

“Emang Neng habis dari mana?” tanya Mang Tono.
“Gue kabur dari pesantren ” jawab Kayana.
Mang Tono syok dengan penuturan Kayana,
“Pondok Persantren Al Fatah?” tanya Mang Tono.
“Iya.” jawab Kayana singkat.

“Jadi Neng santri yang kabur dari pondok?” tanya Mang Tono lagi.
“Akhhh!! iya, iya, iya, lo banyak tanya, buat Gue sakit kepala!” bentak Kayana.
Mang Tono berbalik arah menuju mobil dan berbicara dengan orang yang berdeda di dalam mobil. Setelah beberapa menit kemudian Mang Tono menghampiri Kayana.
“Klok Neng mau, ayo Mang Tono antarkan ke pondok persantren lagi, bahaya klok Neng jalan sendirian, apalagi jalan ke jalan raya bukan ke arah sini.” tawar Mang Tono.
“Enak aja Gue sudah mati-matian untuk bisa kabur dari tempat itu, lo malah nyuruh Gue untuk balik, ogah.” kesal Kayana.

“Iya sudah kalau Neng tidak mau, Mang Tono balik kalau gitu.” jawab Mang Tono meninggalkan Kayana dan masuk ke mobil.
“Ayo Mang jalana.” ucap Gus Fahri.
“Nggih Gus.” ucap Mang Tono melajukan mobil dan menginggalkan Kayana.
Bersambung…

Baca juga  Mematahkan Mitos Tentang Eksim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *