Garis Takdir Dinding Pesantren Part 2

1 2

Garis Takdir Dinding Pesantren Part 2

Brebes.net – Mobil yang Mang Tono kendarai memasuki area ndalem pesantren.
“Sini Gus, Mang Tono bantu angkat barangnya.” sambil mengabil barang yang di bawa Gus Fahri.
“Syukron Mang.” jawab Gus Fahri.
“Afwan Gus.” jawab Mang Tono.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh.” salam Gus Fahri.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh.” ucap wanita cantik dan muda menghampiri Gus Fahri.
“Mas fahri.” pekik Ning Zahra menyalami Gus Fahri dan langsung memeluk Kakanya itu.
“Umi, Mas Fahri pulang” ucap Ning Zahra bersemangat.
“Ayo masuk Mas” sambung Ning Zahra menggandeng tangan Kakanya menujua ruang keluarga.
“Anak Umi” ucap Umi Fatimah menghamiri Gus Fahri dan langsung menghaburkan pelukan kepada anak lelakinya. Tak lupa Gus Fahri menyalami Umi tercintanya.
“Bukannya Gus Fahri pulangnya besok?” tanya Umi Fatimah heran.
“Sengaja Umi, Fahri mau buat kejutan.” jawab Gus Fahri menggaruk tungkunya yang tidak gatal.
“Umi, Abi mana?” tanya Gus Fahri karena tidak melihat sosok panutannya.
“Abimu lagi isi kajian di kampung sebelah, kalau tahu Gus mau pulang hari ini sudah pasti Abimu menyuruh yang lain untuk isi kajiannya.” tutur Umi Fatimah.
“Mas oleh-oleh dari Tarim mana?” tanya Ning Zahra antusias
“Dihh bukannya nanya kabar Mas mu lebih dulu, malah nanya oleh-oleh.” canda Gus Fahri dengan ekspresi cemberut.

Garis Takdir Dinding Pesantren Part 2
Garis Takdir Dinding Pesantren Part 2

“Zahra lihat Mas baik-baik saja kenapa harus nanya lagi.” jawab Ning Zahra tidak mau kalah.
“Ayo Mas mana oleh-olehnya.” rengek Ning Zahra tidak sabar
“Nih.” ucap Gus Fahri menyodorkan pasir dalam botol.
“MasyaaAllah.” ucap Ning Zahra bebinar “Syukron Mas, ini sebagai penyemangat Zahra biar bisa pergi ke Tarim.”
Umi Fatimah meilhat interaksi kakak beradik tersebut cuma tersenyum.
“Umi, ini buat Umi tercinta.” Gus Fahri menyodorkan tasbih kepada Umi Fatimah.
“MasyaaAllah, Syukron Gus atas hadianya.” ucap Umi Fatimah.
“Iya sudah Fahri mau ke kamar untuk bersih-bersih dulu, dah bau acem” izin Gus Fahri kepada uminya.
“Iya, setelah beraih-bersih segera turun, Umi akan buatkan masakan kesukan Gus Fahri” ucap Umi Fatimah.
“Nggih Umi, nanti Fahri turun ke bawah.” ucap Gus Fahri meninggalkan ruang keluarga dan berjalan menuju kamarnya.
Pintu kamar pun di buka secara perlahan, sudah 8 tahun meinggalkan kamar ini tapi kamarnya masih sama sebelum dia berangkat ke Yaman, semua tertata dengan rapi. Tampak banyak kitab tersusun rapi. Gus Fahri masuk ke dalam kamarnya.
“Tidak ada yang berubah.” gumamnya.
Tak sengaja pandangannya mengarah pada tasbih hitam yang tergeletak di meja belajarnya.
Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *