Garis Takdir Dinding Pesantren Part 3

3 2

Garis Takdir Dinding Pesantren Part 3

Brebes.net – Pintu kamar pun di buka secara perlahan, sudah 8 tahun meinggalkan kamar ini tapi kamarnya masih sama sebelum dia berangkat ke Yaman, semua tertata dengan rapi. Tampak banyak kitab tersusun rapi. Gus fahri masuk ke dalam kamarnya.
“Tidak ada yang berubah” gumamnya.
Tak sengaja pandangannya mengarah pada tasbih hitam yang tergeletak di atas meja belajarnya.
Flashback On
10 tahun yang lalu. Aku masuk ke salah satu grup whatsapp di mana di sana kita bisa mengambil ilmu dari orang-orang berilmu. Perhatianku tertuju pada salah satu nomer yang sering sekali menyampaikan ilmu. Sampai akhirnya entah kenapa nomer itu mendadak keluar dari grup. Aku pun berinisiatif untuk menghubunginya.
“Assalamualaikum, kenapa keluar dari grup?” tanyaku.
“Wa’alaikumsalam, tidak apa-apa cuma grupnya sudah tidak baik-baik saja.” jawabnya.
Entah keberanian dari mana, aku pun meminta dia untuk mengesave nomerku.
“Save nomer ku ya, Fahri” tuturku.
“Apa kamu laki-laki?” tanyanya.
“Iya saya laki-laki” jawabku.

Garis Takdir Dinding Pesantren Part 3
Garis Takdir Dinding Pesantren Part 3

“Kenapa kamu bisa masuk ke grup khusus wanita?” tanyanya.
“Teman saya yang memasukan saya ke grup tersebut, tapi saya tidak berniat apa-apa, saya murni untuk mengabil ilmu.” jelasku.
“Saya cuma mau berteman denganmu.” sambungku.
Untuk menyakinkan dia entah pemikiran dari mana aku mengirimkan foto KTP ku. Mungkin saat ini dia syok melihat aku mengirimkan foto KTP.
“Iya sudah saya save nomernya.” balasnya.
“Iya.” jawabku singkat.
“Namamu siapa?” tanyaku.
“Saya Hasa.” balasnya.
– – – –
Butuh berbulan-bulan untuk bisa membangun hubungan baik dengannya, untuk bisa akrab dengannya. Semakin lama mengenalnya dia sangat menyenangkan, tidak dingin seperti awal kenal, banyak hal yang dapat ku ambil darinya, tak jarang aku mengajaknya untuk berdiskusi.
Hubungan kita semakin dekat dan aku ingin menemuinya. Aku pun meminta dia untuk bertemu denganku sebelum pergi ke Jawa untuk menuntut ilmu selama setahun sebagai bekalku untuk pergi ke Yaman. Tapi aku sedikit kecewa karena dia tidak mau menemuiku.
“Saya akan berangkat ke Jawa untuk menuntut ilmu, saya ingin bertemu, apakah kamu mau bertemu dengan saya?” tanyaku.
“Maaf saya tidak bisa.” jawabnya.
“Cuma sekali.” ucapku menyakinkan.
“Gimana kalau sepulangmu dari Yaman, saya janji akan menemuimu.” balasnya.
Mendengar jawabannya aku merasa sedikit kecewa.
“Baiklah.” balasku singkat.
– – – –
Ke esokan harinya aku pun berangkat ke Jawa tak lupa membuat story di whatsapp. Notif dari handphone berbunyi. Ku lihat dia mengirimkan pesan padaku. Sekilas aku melihat pesannya.
“Fii amanillah.” ucapnya.
Aku tidak membalasnya karena pesawat yang aku tumpangi akan segera lepas landas. Setelah beberapa jam kemudian pesawat yang aku tempangi mendarat dengan selamat. Malamnya aku pun membalas pesannya.
“Aamiin.” balasku.
Aku pun memutuskan untuk mandi. Peraturan di sini boleh memegang handphone ketika hari jum’at. Hari itu aku gunakan untuk menghubungi keluargaku dan dirinya. Hingga satu tahun berlalu, satu minggu lagi adalah hari kepulanganku ke Lombok. Aku pun menghubunginya.
“Satu minggu lagi saya akan pulang ke Lombok.” ucapku.
“Alhamdulillah kalau gitu.” balasnya.
Perasaan ingin bertemu tak terelakan dariku. Aku mencoba membujuknya untuk mau bertemu denganku.
“Selepas pulang dari Lombok, saya akan betangkat ke Yaman, apakah kamu mau bertemu dengan saya sebelum berangkat ke Yaman?” tanyaku.
“Bukankah dulu saya sudah menjawabnya?” balasnya balik bertanya padaku.
Aku tak kehilangan akal aku pun membalasnya.
“Mati tidak ada yang tau, bagaimana kalau kita tidak pernah bertemu?” tanyaku.
Mungkin dia sedang berpikir karena sampai malam pesanku belum di balas. Sekitar pukul 21.25 ada notif darinya dengan segera ku buka.
“Baiklah saya mau bertemu denganmu, tapi janji saya yang dulu tidak berlaku lagi, gimana?” tuturnya negosiasi.
“Mana bisa, janji ya harus di tepati.” balasku tak terima.
“Iya sudah sepulangmu dari Yaman saja, baru kita bertemu.” balasnya.
“Jangan bilang gitu.” tuturku sedih.
“Hemm baiklah baiklah, saya akan menemuimu, dan akan menemui mu kembali setelah kepulang mu dari Yaman, entah saat itu kamu sudah memiliki pasangan ataupun saya sudah memiliki pasangan.” tuturnya.
“Iya.” balasku singkat meskipun di hatiku ada rasa sedih dengan balasanya tadi.
Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *