Garis Takdir Dinding Pesantren Part 4

1 2

Garis Takdir Dinding Pesantren Part 4

Brebes.net – Hari kepulanganku ke Lombok, aku menghabiskan waktu bersama keluarga.
Terdengar notif dari handphone ku berbunyi, bergegas aku membukanya.
“Saya kirimkan ya hadiahnya.” bunyi pesan darinya.
“Jangan, kita harus bertemu.” jawabku.
“Iya sudah.” jawabnya singkat.
Satu minggu kemudian, hari di mana untuk pertama kalinya aku bertemu dengannya. Kami memutuskan untuk bertemu di taman.
Notif darinya “Kamu sudah di mana?” tanyanya.
“Sebentar lagi aku sampai.” jawabku. Aku pun mengirimkan foto keberadaan ku sekarang.
“Kamu lagi di mana?” tanyaku balik.
“Saya sudah berada di lapangan.” jawabnya.
Beberapa menit kemudian setelah memarkirkan mobil aku pun langaung berjalan mengarah ke lapangan, pandangan ku terhenti pada sosok wanita yang mengenakan abaya hitam dengan pasmina merah dengan cadar yang senada tengah duduk di tepi lapangan sedang memainkan handphonenya. Aku terdiam beberapa saat, hingga lamunanku terbuyarkan oleh notif dari handphone yang sedang berada pada genggamanku
“Belum sampaikah?” tanyanya.
“Coba lihat ke samping.” jawabku.
Entah kenapa aku gemes sekali melihat dia sedang mencari keberadaan ku. Pandangan kita bertemu. Entah berapa lama kita saling menatap, jantungku berdetak dengan cepat, waktu seolah berheti. Lamunanku terbuyarkan ketika dia berjalan menghampiriku tak lupa dengan lambaian tangan menghiasi langkahnya.
“MaasyaaaAllah.” gumamku pelan entah kenapa senyumanku tiba-tiba terukir. Dia sangat imut tingginya hanya sampai sebahuku.
“Assalamualaikum ini Fahri kan?” tanyanya saat dia sudah berdiri tepat di hadapanku.
“Wa’alaikumsalam iya.” jawabku tenang.
Kami pun berjalan mencari tempat duduk yang pas untuk mengobrol. Sungguh aku sangat gerogi.
“Kita duduk di sana.” ucapnya sambil mengarahkan pandangannya ke arah bangku yang tidak jauh dari lapangan, kami pun duduk dengan jarak satu mater.
“Kenapa sendirian? Kenapa tidak mengajak teman mu?” Tanyaku mengawali pembicaraan.
“Teman saya lagi sibuk semua, maaf saya perginya sendiri.” jawabnya. Aku pun mengangguk mengerti.
“Oh iya ini teman saya namanya Syam.” aku memperkenalkan syam kepadanya.
“Haii saya Hasa” ucapnya dengan tersenyum di balik cadarnya.
“Saya Syam” jawab Syam singkat.
Aku mencoba untuk mencairkan suasana, pandanganku tertuju pada orang yang sedang berlatih bela diri.
“Ayo kita tanding.” ajakku kepadanya, ku lihat dia sedikit kaget mendengar ucapanku.
“Saya sudah lama tidak belajar bela diri.” tuturnya.
“Oh iya aku sampai lupa, tunggu sebentar aku kembail ke parkiran dulu.” ucapnya tiba-tiba.
Tanpa menunggu jawabanku dia beranjak dari tepat duduknya dan pergi ke arah parkiran. Setelah beberapa menit kemudian dia pun kembali dengan sesuatu yang berada dalam genggaman tangannya. Dia menghampiri ku dan menyodorkan benda tersebut kepadaku. Ku lihat tangannya sedikit bergetar saat memberikan benda itu kepadaku.
“Kenapa tangannya? Apa kamu grogi?” tanyaku bercanda.
“Cepat ambil” jawabnya dengan pandangan terus mengarah ke bawah. Dia pun kembali duduk setelah aku mengambil benda tersebut.
Ku pandangi tasbih berwarna hitam yang dia berikan kepadaku dengan senyuman yang tak pudar dari sudut bibirku.
“Ahh kenapa rasanya bahagia sekali” gumamku dalam hati. Pandangku teralihkan saat dia berbicara.
“Maaf hadihnya tidak seberapa” ucapnya dengan pandangan terus ke bahwa
“Bukan dilihat dari harganya tapi dari orang yang memberikan, ini sangat berharga.” jawabku dengan senyuman yang tak lepas dari sudut bibirku. Entah kenapa hatiku merasa sangat bahagia mendapatkan benda sederhana ini.
“Saya menemukan tasbih ini saat sedang mencari cadar, karena lucu saya ambil sepasang untuk saya dan kamu.” ucapnya sambil mengelurkan tasbih yang berwarna biru dari dalam tasnya.
Aku tersenyum mendengarnya
Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *