Fathimah dari Nisyapur, Sosok Wanita Sufi yang Berkeluarga dan Ahli Makrifat Terbesar

brebes 25 jpg

Fathimah dari Nisyapur, Sosok Wanita Sufi yang Berkeluarga dan Ahli Makrifat Terbesar.

Brebes.net – Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Selamat datang kembali  kali ini kita akan membahas kisah Fatimah dari Nisyapur yaitu sosok wanita sufi yang berkeluarga dan ahli makrifat terbesar pada zamannya berikut sedikit kita akan membahas tentang pernikahan Allah ta’ala menegakkan sunnahnya di alam ini atas dasar berpasang-pasangan dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan Alquran surah az-zariyat ayat 49 ada siang ada malam ada lagi ada perempuan masing-masing memerankan fungsinya sesuai dengan tujuan utama yang telah Allah rencanakan tidak ada dari sunnah tersebut yang Allah ubah kapanpun dan dimanapun berada dan kamu sekali-kali tidak 

Sosok Wanita Sufi yang Berkeluarga dan Ahli Makrifat Terbesar
Sosok Wanita Sufi yang Berkeluarga dan Ahli Makrifat Terbesar

akan mendapati perubahan pada sunnah Allah Alquran surah Al Ahzab ayat 62 dan kamu tidak akan mendapati perubahan bagi ketetapan kami itu Alquran surah al-isra ayat 77 dengan melanggar sunnah itu berarti kita telah meletakkan diri pada posisi bahaya karena tidak mungkin Allah meletakkan sebuah sunnah tanpa ada kesatuan dan keterkaitan dengan sistem lainnya yang bekerja secara sempurna secara universal manusia dengan kecanggihan ilmu dan peradabannya yang dicapai tidak akan pernah mampu menggantikan sunnah ini dengan cara lain yang dikarang otaknya sendiri mengapa sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah membekali masing-masing manusia dengan fitrah yang sejalan dengan sunnah tersebut melanggar sunnah artinya menentang fitrahnya sendiri bila sikap menentang Fitrah ini terus-menerus dilakukan maka yang akan menanggung 

 

resikonya adalah manusia itu sendiri secara kasat mata diantara yang paling tampak dan rahasia sunnah berpasang-pasangan ini adalah untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia dari masa ke masa sampai titik waktu yang telah Allah Tentukan bila institusi pernikahan dihilangkan bisa dipastikan bahwa manusia telah musnah sejak ratusan abad yang silam Mungkin ada yang nyeletuk tapi kalau hanya untuk mempertahankan keturunan tidak mesti dengan cara menikah dengan pergaulan bebas pun bisa Anda bisa berkata demikian tetapi ada sisi lain dari Fitrah yang juga Allah berikan kepada masing-masing manusia yaitu cinta dan kasih sayang Mawaddah warohmah kedua Sisi Fitrah ini tidak akan pernah mungkin tercapai dengan hanya semata pergaulan bebas melainkan harus diikat dengan tali yang Allah ajarkan yaitu tali pernikahan Karena itulah Allah memerintahkan agar kita menikah sebab itulah yang paling tepat menurut Allah dalam memenuhi tuntutan Fitrah tersebut tentu tidak ada bimbingan yang lebih sempurna dan membahagiakan lebih daripada bimbingan Allah Allah berfirman FU dengan kata perintah ini menunjukkan pentingnya hakikat pernikahan bagi manusia jika membahayakan tidak mungkin Allah perintahkan malah yang Allah 

Fathimah dari Nisyapur, Sosok Wanita Sufi yang Berkeluarga dan Ahli Makrifat Terbesar.

larang adalah perizinan dan janganlah kamu mendekati zina Alquran surah al-isra ayat 32 ini menegaskan bahwa setiap yang mendekatkan kepada perzinaan adalah haram apalagi melakukannya mengapa sebab Allah mengirimkan agar manusia hidup bahagia aman dan Sentosa sesuai dengan fitrahnya mendekati zina dengan cara apapun adalah proses penggerogotan terhadap fitrah dan sudah terbukti bahwa pergaulan bebas telah melahirkan banyak bencana tidak saja pada hancurnya harga diri sebagai manusia melainkan juga hancurnya kemanusiaan itu sendiri tidak jarang kasus seorang ibu yang membuang janinnya ke selokan ke tong sampah bahkan dengan setengah jam membunuhnya hanya karena merasa malu menggendong anaknya dari hasil zina perhatikan Bagaimana akibat yang harus diterima ketika institusi pernikahan sebagai Fitrah diabaikan bisa 

 

dibayangkan Apa akibat yang akan terjadi jika semua manusia melakukan cara yang sama Ustadz Sholeh dalam bukunya 5 Yaris mengatakan orang yang hidup melajang biasanya sering tidak normal baik cara berpikir impian dan sikapnya ia mudah terperdaya oleh setan lebih dari mereka yang telah menikah dalam surat ar-rum ayat 21 Allah menyebutkan pentingnya mempertahankan hakikat pernikahan dengan sederet bukti-bukti kekuasaannya di alam semesta ini menunjukkan bahwa dengan menikah kita telah menegakkan satu sisi dari bukti kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam sebuah kesempatan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lebih menguatkan makna pernikahan sebagai ibadah Bila seorang menikah berarti ia telah melengkapi separuh dari agamanya maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah pada paruh yang tersisa hadits riwayat Baihaqi hadis Hasan belum lagi dari sisi ibadah sosial di mana sebelum menikah 

 

kita lebih sibuk dengan dirinya tapi setelah menikah kita bisa saling melengkapi mendidik istri dan anak semua itu merupakan lapangan pahala yang tak terhingga bahkan dengan menikah seseorang akan lebih terjaga moralnya dari hal-hal yang mendekati perzinaan Alquran menyebut orang yang telah menikah dengan istilah muson atau musana yang artinya orang yang terbentengi istilah ini sangat kuat dan menggambarkan bahwa kepribadian orang yang telah menikah lebih terjaga dari dosa daripada mereka yang belum menikah bila ternyata pernikahan menunjukkan bukti kekuasaan Allah membantu tercapainya sifat Taqwa dan menjaga diri dari tindakan amoral maka tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan merupakan salah satu ibadah yang tak kalah pahalanya dengan ibadah-ibadah lainnya Jika ternyata Anda setiap hari bisa menegakkan ibadah salat dengan tenang tanpa merasa terbebani Mengapa anda merasa berat dan selalu menunda untuk menegakkan ibadah pernikahan ini ibadah dan itupun juga ibadah sering 

 

kali saya mendapatkan seorang jejaka yang sudah tiba waktu menikah Jika ditanya Mengapa tidak menikah ia menjawab belum mempunyai penghasilan yang cukup padahal waktu itu ia sudah bekerja Bahkan ia mampu membeli motor dan HP tidak sedikit dari mereka yang mempunyai mobil setiap hari ia harus mengeluarkan biaya yang cukup besar dari penggunaan HP motor dan mobil tersebut Bila setiap orang berpikir demikian Apa yang akan terjadi pada kehidupan manusia saya belum pernah menemukan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melarang seorang 

 

sahabatnya yang ingin menikah karena tidak punya penghasilan Bahkan dalam beberapa riwayat yang pernah saya baca Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bila didatangi seorang sahabatnya yang ingin menikah ia tidak menanyakan Berapa penghasilan yang diperoleh per bulan melainkan apa yang ia punya untuk dijadikan mahar Mungkin ia mempunyai cincin besi jika tidak mungkin ada pakaian yang lebih jika tidak malah ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian Surat al-qur’an apa yang tergambar dari kenyataan tersebut adalah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai masalah melainkan sebagai pemecah 

 

persoalan bahwa pernikahan bukan sebuah beban melainkan tuntutan Fitrah yang harus dipenuhi seperti kebutuhan Anda terhadap makan manusia juga butuh untuk menikah memang ada Sebagian ulama yang tidak menikah sampai akhir hayatnya seperti yang terkumpul dalam buku Al ulama al-azhab Al ladzina tetapi itu bukan untuk diikuti semua orang itu adalah terkecualian sebab Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah melarang seorang sahabatnya yang ingin hanya beribadah tanpa menikah lalu menegaskan bahwa ia juga beribadah tetapi ia juga menikah di sini jelas sekali Bagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam selalu menuntun kita agar berjalan dengan fitrah yang telah Allah bekalkan tanpa merasakan beban sedikitpun memang masalah penghasilan hampir selalu menghantui setiap para Jejak muda maupun tua dalam memasuki wilayah pernikahan sebab yang terbayang bagi mereka ketika menikah adalah keharusan membangun rumah memiliki kendaraan mendidik anak dan seterusnya 

 

di mana itu semua menuntut biaya yang tidak sedikit tetapi kenyataannya telah terbukti dalam sejarah hidup manusia sejak ratusan tahun yang lalu bahwa banyak dari mereka yang menikah sambil mencari nafkah artinya tidak dengan memaparkan diri secara ekonomi terlebih dahulu dan ternyata mereka bisa hidup dan beranak dengan demikian kemampuan ekonomi bukan persyaratan utama bagi seseorang untuk memasuki dunia pernikahan mengapa sebab ada pintu-pintu rezeki yang Allah sediakan setelah pernikahan artinya untuk meraih jatah Rezky tersebut pintu masuknya menikah dulu jika tidak Rezeki itu tidak akan cair inilah pengertian ayat jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunianya dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui Alquran surah an-nur ayat 32 ini adalah jaminan langsung dari Allah agar masalah penghasilan tidak dikaitkan dengan pernikahan artinya masalah rezeki satu hal dan 

 

pernikahan adalah hal yang lain lagi Abu Bakar As Siddiq ketika menafsirkan ayat itu berkata taatilah Allah dengan menikah Allah akan memenuhi janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup Al qurthubi berkata ini adalah janji Allah untuk memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk mencapai riba Allah dan menjaga diri dari kemaksiatan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridanya Allah pasti akan membantu dan memberkahi hadits riwayat Thabrani dalam hadis lain disebutkan tiga hal yang pasti Allah bantu diantaranya yaitu orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan hadits riwayat turmuzi dan Nasa’i Imam taus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maisarah Menikahlah segera atau saya akan mengulang perkataan 

 

Umar Bin Khattab kepada Abu Saleh tidak ada yang menghalangimu dari pernikahan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat ini semua secara makna menguatkan pengertian ayat di atas di mana Allah tidak akan pernah membiarkan hambanya yang bertakwa kepada Allah dengan membangun pernikahan persoalannya sekarang Mengapa banyak orang berkeluarga yang hidup Melarat kenyataan ini mungkin membuat banyak jejaka berpikir dua kali untuk menikah dalam masalah nasib kita tidak bisa mengenali apa yang terjadi pada sebagian orang sebab masing-masing ada garis nasibnya kalau itu pertanyaannya Kita juga bisa bertanya Mengapa Anda bertanya demikian Bagaimana kalau anda melihat fakta yang lain lagi bahwa banyak orang yang tadinya Melarat dan ternyata setelah menikah hidupnya lebih makmur dari sini 

 

bahwa pernikahan bukan hambatan dan kemapanan penghasilan bukan sebuah persyaratan utama yang paling penting adalah kesiapan mental dan kesungguhan untuk memikul tanggung jawab tersebut secara maksimal Saya yakin bahwa setiap perbuatan ada tanggung jawabnya bersinar pun bukan berarti setelah itu selesai dan bebas dari tanggung jawab melainkan setelah itu ia harus memikul beban berat akibat kemaksiatan dan perzinaan kalau tidak harus mengasuh anak zina ia harus menanggung dosa zina keduanya tanggung jawab yang kalau ditimbang-timbang tidak kalah beratnya dengan tanggung jawab pernikahan bahkan tanggung jawab menikah jauh lebih ringan karena masing-masing dari Suami istri saling melengkapi dan saling menopang ditambah lagi bahwa masing-masing ada jatah rezekinya yang Allah sediakan tidak jarang seorang suami yang bisa keluar dari kesulitan ekonomi karena jatah rezeki Seorang Istri bahkan ada sebuah rumah tangga yang jatah rezekinya ditopang oleh anaknya perhatikan 

 

Bagaimana keberkahan pernikahan yang tidak hanya saling menopang dalam mentaati Allah melainkan juga dalam sisi ekonomi seorang kawan pernah mengatakan ia ingin mencari ilmu terlebih dahulu baru setelah itu menikah anehnya ia tidak habis-habis mencari ilmu hampir semua Universitas ia cicipi usianya sudah begitu lanjut bila ditanya Kapan menikah ia menjawab Saya belum selesai mencari ilmu ada sebuah pepatah diucapkan para ulama dalam hal mencari ilmu Seandainya aku infakan semua usiamu untuk mencari ilmu kau tidak akan mendapatkannya kecuali hanya sebagiannya dunia ilmu sangat luas seumur hidup kita tidak akan pernah mampu menelusuri semua ilmu sementara menikah adalah tuntutan Fitrah karenanya tidak ada aturan dalam Islam agar kita mencari ilmu dulu baru setelah itu menikah banyak para ulama yang menikah juga mencari ilmu benar hubungan mencari ilmu Disini sangat berkait erat dengan penghasilan tetapi banyak sarjana yang telah menyelesaikan program studinya 

 

bahkan ada yang sudah dokter atau Profesor tetapi masih juga pengangguran dan belum mendapatkan pekerjaan artinya menyelesaikan periode studi juga bukan jaminan untuk mendapatkan penghasilan sementara pernikahan selalu mendesak tanpa semuanya itu di dalam Alquran maupun sunnah tidak ada tuntutan keharusan menunda pernikahan demi mencari ilmu atau mencari harta bahkan banyak ayat dan hadits berupa panggilan untuk segera menikah terlepas Apakah kita sedang mencari ilmu atau belum mempunyai penghasilan berbagai Pengalaman membuktikan bahwa menikah tidak menghalangi seorang dalam mencari ilmu banyak sarjana yang berhasil dalam mencari ilmu sambil menikah begitu juga banyak yang gagal artinya Semua itu tergantung kemauan orangnya bila Ia menikah dan tetap berkemauan tinggi untuk mencari ilmu ia akan berhasil sebaliknya jika setelah menikah kemauannya mencari ilmu melemah Iya gagal 

 

pada intinya pernikahan adalah bagian dari kehidupan yang harus juga mendapatkan porsinya perjuangan seseorang akan lebih bermakna ketika ia berjuang juga menegakkan rumah tangga yang Islami Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah memberikan contoh yang sangat mengagumkan dalam masalah pernikahan beliau menikah dengan sembilan istri padahal beliau secara ekonomi bukan seorang raja atau konglomerat Tetapi semua itu rasulullah jalani dengan tenang dan tidak membuat tugas-tugas kerasulannya terbengkalai suatu indikasi bahwa pernikahan bukan hal yang harus dipermasalahkan melainkan harus dipenuhi artinya seorang yang cerdas sebenarnya tidak perlu didorong untuk menikah sebab Allah telah menciptakan Gelora Fitrah yang luar biasa dalam dirinya dan itu tidak bisa dipungkiri masing-masing orang lebih tahu dari orang lain mengenai Gelora ini dan ia sendiri yang menanggung perih dan kegelisahan Gelora ini jika ia terus ditahan-tahan untuk memenuhi tuntutan Gelora itu tidak mesti harus selesai studi dulu itu bisa ia lakukan sambil berjalan kalaupun Anda i

 

ngin mengambil langkah seperti para ulama yang tidak menikah atau usap demi ilmu silahkan saja Tetapi apakah kualitas ilmu Anda benar-benar seperti para ulama itu jika tidak Anda telah Rugi dua kali ilmu tidak maksimal menikah juga tidak bila para ulama uzab karena saking sibuknya dengan ilmu sampai tidak sempat menikah apakah anda telah mencapai kesibukan para ulama itu sehingga Anda tidak ada waktu untuk menikah dari sini Jika benar-benar ingin ikut jejak ulama usap yang diikuti Jangan hanya tidak menikahnya melainkan tingkat pencapaian ilmunya juga agar seimbang sebenarnya pernikahan bukan masalah menikah adalah jenjang yang harus dilalui dalam kondisi apapun dan bagaimanapun Ia adalah sunnatullah yang tidak mungkin diganti dengan cara apapun bila Rasulullah menganjurkan agar berpuasa itu hanyalah solusi sementara ketika kondisi memang benar-benar tidak memungkinkan tetapi dalam kondisi normal sebenarnya tidak ada alasan yang bisa dijadikan pijakan untuk 

 

menunda pernikahan agar pernikahan menjadi solusi alternatif Mari kita pindah dari pengertian pernikahan sebagai beban ke pernikahan sebagai ibadah seperti kita merasa senang menegakkan sholat saat tiba waktunya dan menjalankan puasa saat tiba Ramadan kita juga Seharusnya merasa senang memasuki dunia pernikahan saat tiba waktunya dengan tanpa beban apapun kondisi ekonomi kita bila keharusan menikah telah tiba jalani saja dengan jiwa tawakal kepada Allah sudah terbukti orang-orang bisa menikah sambil mencari nafkah Allah tidak akan pernah membiarkan hambanya yang berjuang di jalannya untuk membangun rumah tangga sejati perhatikan mereka yang suka berbuat maksiat atau berzina mereka begitu berani mengerjakan itu semua Padahal perbuatan itu tidak hanya dibenci banyak manusia melainkan lebih dari itu dibenci Allah bahkan Allah mengancam mereka dengan siksaan yang pedih melihat kenyataan ini Seharusnya kita lebih berani berlomba menegakkan pernikahan untuk mengimbangi mereka terlebih Allah menjanjikan kekayaan suatu jaminan yang luar biasa bagi mereka yang bertakwa kepadanya dengan membangun 

 

pernikahan Nah ada sebuah kisah Sufi perempuan yang menikah dan mengurus keluarga namun beliau tetap menjalankan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala pernikahan tidak pernah mengganggu ibadah beliau beliau merupakan ahli makrifat terbesar pada zamannya Sufi perempuan tersebut adalah Fatimah dari nisyafur tokoh sufi wanita yang populer di dunia tidak begitu banyak namun sosok Sufi ini merupakan sosok yang mempunyai keteguhan hati independent percaya diri dan begitu mendalam dalam mempelajari tradisi-tradisi tasawuf beliau adalah Fatimah dari Indonesia Pur dan beliau adalah sosok Sufi wanita yang langka yakni sosok wanita sufi yang menikah atau berkeluarga Fatimah yang lahir pada tahun 233 Hijriyah adalah seorang Sufi perempuan yang hidup Satu zaman dengan sunan Al misri dan Abu Yazid Al Bustami ia termasuk salah satu ahli makrifat terbesar pada zamannya sehingga Abu Yazid Al Bustami memujinya susunan Al misri meminta pendapatnya tentang berbagai permasalahan dalam buku sufi-sufi 

 

wanita tradisi yang tersadari Abu Abdurrahman As Sulami menyebutkan bahwa Fatimah tumbuh besar dalam keluarga tertua di khurasan ia menghabiskan waktunya dengan beribadah di Mekah Ia juga mungkin pernah pergi ke Yerusalem dan kembali lagi ke Mekkah Fatimah meninggal pada saat melaksanakan ibadah umroh dikisahkan suatu ketika Fatimah mengirim hadiah kepada Sunan Al misteri tetapi hadiah tersebut dikembalikan oleh sunan arus listrik sambil berkata menerima hadiah dari perempuan adalah tanda kehinaan dan kelemahan kemudian Fatimah menjawab tidak ada Sufi di dunia ini yang lebih hina daripada orang yang meragukan motif Sufi lainnya dalam artian seorang Sufi sejati tidak melihat penyebab sekunder tetapi selalu mengacu pada pemberi yang abadi yaitu Tuhan dalam riwayat lain diceritakan suatu ketika zunun Al misri dan Fatimah bersama-sama berada di Yerusalem kemudian Sunan Al misri berkata nasihatilah aku kemudian Fatimah berkata kepadanya biasakanlah hidup jujur dan tak salah 

 

dirimu dalam tindakan dan kata-katamu dalam riwayat lain Sunan Al misri menjelaskan bahwa Fatimah pernah berkata orang yang beramal Demi Tuhan sementara berkeinginan menyaksikannya adalah seorang makrifat sedangkan orang yang beramal dengan harapan Tuhan akan memperhatikannya adalah seorang yang beriman Tulus juga beberapa kali memuji Fatimah Beliau mengatakan aku belum pernah melihat seseorang yang lebih utama daripada seorang perempuan yang aku temui di Mekkah yang bernama Fatimah Annisa Buria dia biasa membicarakan berbagai permasalahan yang berkenaan dengan makna Alquran dengan cara yang mengagumkan dia adalah Wali dari sahabat-sahabat Allah subhanahu wa ta’ala dan dia juga Guruku selain Sunan Al misri tokoh sufi lain yang pernah Memberikan komentar terhadap sosok Fatimah adalah Abu Yazid Al Bustami Beliau mengatakan Sepanjang hidupku aku baru menemukan seorang laki-laki dan satu perempuan sejati perempuan itu adalah 

 

Fatimah Annisa Buria setiap kali aku memberinya pengetahuan tentang salah satu makam spiritual dia menerimanya seolah-olah dia telah mengalaminya sendiri suatu ketika suami Fatimah yang bernama Ahmad bin hudriyah menampakan sebuah kecemburuan karena Fatimah membangun persahabatan yang begitu Intens dengan dua tokoh sufi di atas kemudian Fatimah mengatakan kepada suaminya Kau adalah karib dengan diri alamiahku sedang Abu Yazid dan Sun Nun dengan jalan spiritualku Fatimah adalah sosok perempuan sufi yang menonjol di antara perempuan sufi yang menikah keberadaan Sufi perempuan ini menunjukkan bahwa para perempuan Sufi tidak semuanya menjalani hidup dengan tidak menikah sebuah pernikahan yang dilakukannya juga tidak membuatnya Abai dengan jalan spiritual dia menjalani perannya sebagai seorang istri dan pejalan rohani dengan baik dimana dua hal tersebut berjalan bersamaan dan tak saling menghapuskan satu sama lainnya Bahkan dia juga akhirnya 

 

menjadi pembimbing spiritual bagi suaminya dalam hidupnya Sufi perempuan ini menghabiskan waktunya untuk beribadah di Mekkah dan juga kadang di Yerusalem dan kembali ke Makkah Sampai Akhir hayatnya demikianlah kisah Fatimah dari Nisa Pur yaitu sosok wanita sufi yang berkeluarga dan ahli makrifat terbesar pada zamannya Semoga kita banyak mengambil pelajaran Mohon maaf bila ada kesalahan Semoga kita banyak mengambil pelajaran dari kisah ini Terima kasih  wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *